TRINITY, THE NEKAD TRAVELER “Dalam 20 Tahun Lagi Kita Akan Lebih Menyesali Hal-Hal Yang Banyak Belum Pernah Kita Lakukan Saat Ini”

Review Trinity, The Nekad Traveler
Score : 2.5/5
Genre : Drama
Tahun : 2017
Durasi : 103 Menit

“Dalam 20 Tahun Lagi Kita Akan Lebih Menyesali Hal-Hal Yang Banyak Belum Pernah Kita Lakukan Saat Ini”

(+) Visual gambar tempat yang disajikan benar-benar bikin “mupeng”
(+) Karakter Bos yang lumayan mencuri perhatian

(-) Karakter tokoh utama yang kurang greget
(-) Konflik yang benar-benar cuma terasa sebagai tempelan

Kesimpulan :
Film yang di adaptasi dari buku dengan judul The Naked Traveler ini bercerita tentang seorang traveler bernama Trinity yang dimana dia adalah seseorang yang hobi melanglang buana kemana pun sampai pekerjaannya sebagai seorang karyawan pun harus rela mengambil waktu untuk mencari jadwal cuti tambahan demi hobinya tersebut. Begitulah kira kira gambaran dasar dari karakter utama yang diperankan oleh Maudy Ayunda yang bawaannya setiap ngeliat dia pengen Reviewer ajak untuk ijab kabul, namun sayang entah kenapa disini Maudy Ayunda kurang begitu ‘kuat” karakternya seperti perannya di Film “Perahu Kertas”. Untungnya dia disini bisa menampilkan “chemistry” yang pas dengan lawannya yaitu, Babe Cabiita eh bukan maksudnya Hamish Daud. Disini chemistry mereka bisa membuat para wanita yang akan iri dengan Maudy yang bisa gelendotan dengan Hamish dan sebaliknya Hamish bisa membuat para pria iri dimana dia menang banyak bisa memeluk seorang Maudy Ayunda, Iya MEMELUK. Selain mereka berdua ada karakter bos yang diperankan oleh Ayu Dewi yang dimana disini dia berhasil mencuri perhatian Reviewer dengan perannya sebagai “Ice Breaker” dalam film ini yang dimana lumayan bisa melemaskan rahang para penonton dengan karakter yang gak jauh beda dengan kehidupan asli seorang Ayu Dewi. Visual yang ditampilkan dalam film ini sangat bisa membuat kalian para penonton termasuk Reviewer untuk ikut-ikutan membuat “Bucket List” yang dimana isinya adalah tentu saja penuh dengan “Hedonisme”. Tampilan dari tiap tempat yang dikunjungi sang tokoh utama lumayan bisa memancing rasa haus Reviewer yang rindu liburan ala ala film ini. Sayangnya semua itu harus sedikit “dirusak” dengan konflik yang berusaha dimunculkan dalam film ini, yang dimana Reviewer merasa konflik tersebut hanya sebagai tempelan semata, karena terasa dipaksakan. Mungkin karena sesungguhnya bukunya sendiri pun memang tidak terlalu fokus dengan “konflik” dalam film ini, jadi memang beneran tulisan perjalanan semata, oh ya sekedar info Reviewer punya bukunya dari seri 1-4 tapi sayangnya belum pernah disentuh sama sekali. Original soundtrack yang dinyanyikan oleh Maudy dalam film ini pun tidak terlalu membekas seperti sebelumnya dia mengisi OST dari setiap film yang dibintanginya, tapi tentu saja Reviewer tidak kapok setelah menontonnya, seperti jawaban sang tokoh utama ketika ditanya tempat mana yang paling menarik dari perjalanannya selama ini, dan dia menjawab semuanya punya keunikan masing-masing, maka Reviewer pun akan menjawab bahwa setiap film juga punya “keunikan”nya masing-masing. Jadi film ini “Not Bad, But Not Good Too”. Silahkan ditonton sendiri 16 Maret 2017 ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s