KARTINI “Saat Seorang Perempuan Yang Terbelenggu Raganya, Namun Pikirannya Mampu Berimajinasi Liar”

Review Kartini
Score : 3.6/5
Genre : Biography, Drama
Tahun : 2017
Durasi : 119 Menit
Sutradara : Hanung Bramantyo
“Saat Seorang Perempuan Yang Terbelenggu Raganya, Namun Pikirannya Mampu Berimajinasi Liar”
———————————————————————————————————————————-
IDE CERITA (3)  ★★☆☆☆
Sebelum film Kartini dari Hanung Bramantyo ini rilis, sudah ada juga film “Surat Cinta Untuk Kartini” yang dimana mengambil sudut pandang seorang pria pengantar surat yang suka kepada kartini,  dan diperankan oleh Chicho Jericho. Film tersebut tidak terlalu sukses walaupun idenya bisa dibilang fresh, karena mengambil sudut pandang yang berbeda. Dalam film Kartini ini sebenarnya mungkin sudah sebagian banyak cerita hidupnya yang kita ketahui, namun ada juga yang mungkin saat pelajaran sejarah, kita sebagai siswa tidak terlalu memperhatikannya karena mungkin terasa membosankan untuk belajar sejarah pada saat itu. Ternyata Hanung mampu memberikan sebuah ide cerita tentang Kartini yang cukup menarik, walaupun selama ini Reviewer sudah cukup bosan mendengar tentang cerita Kartini yang di “puja puja” sebagai salah satu ikon pelopor emansipasi wanita di Indonesia, ide ceritanya pun lebih mampu menarik Reviewer memberikan nilai 3 Bintang.
———————————————————————————————————————————-
AKTING (3)  ★★★☆☆
Dalam film ini, Dian Sastro sebagai pemeran utama cukup bisa menampilkan sosok Kartini yang katanya terkenal lumayan “Tomboy” untuk kalangan wanita bangsawan pada jaman itu. dialeg dan penjiwaannya pun tersampaikan dengan baik, entah kenapa Reviewer puas dengan pilihan Hanung pada saat memilih Dian sebagai Kartini. Ada juga aktor dan aktris yang lumayan memiliki “nama” di Industri perfilman Indonesia, tampil baik sebagai karakter pendukung maupun cameo. Selain Dian, Reviewer sangat menyukai karakter yang diperankan oleh Djenar Mahesa Ayu yang dimana karakternya disini menampilkan sebuah tampilan manusia yang sangat manusiawi, karena jika kita menonton akan merasa bahwa karakter dia adalah Antagonis, tapi disatu sisi ada alasan kenapa dia seperti itu dan alasan tersebut membuat karakter ini adalah karakter manusia pada umumnya, yang abu-abu. Porsi masing-masing karakter dalam film ini pun pas dan Dian sebagai tokoh utama tidak terlihat “Rakus” dalam membagi Spotlight nya sebagai pemeran utama kepada pemeran pendukung lainnya.
———————————————————————————————————————————-
PLOT (4) ★★★★☆
Jeleknya film biografi adalah dimana kita sudah tau bagaimana ending dari karakter yang diceritakan, tapi entah kenapa dalam film ini seolah olah kita tidak diingatkan bahwa walaupun Kartini akan meninggal dalam usia muda, kita tetap disuguhkan dengan banyak pertanyaan pertanyaan dan keingintahuan kita sebagai penonton untuk mengetahui jawaban dari masalah yang sedang disajikan, ritme dalam film pun terasa tidak membosankan karena kadang kita dibawa untuk menikmati “halusinasi” dari Kartini dan saudaranya yang walaupun terkurung dalam kamar, tapi pikirannya bisa memvisualkan apa yang ada di kepala mereka, kadang juga kita dibawa tegang dan sakral dan kadang kita diminta untuk kasihan dengan karakter yang background nya terasa miris, campur aduk lah pokoknya.
———————————————————————————————————————————-
AUDIO (4) ★★★★☆
Music Scoring terasa begitu mewah dan sakral dengan banyak menampilkan musik musik ala keraton jawa pada saat itu, dan juga banyak momen yang sangat bisa membuat penonton merinding karena didukung oleh audio yang begitu matang yang dipersiapkan dalam film ini, benar benar pas.
———————————————————————————————————————————-
VISUAL (4) ★★★★☆
Film biografi sangat bergantung kepada detail visual baik secara setting maupun kostum dan lain lain. Dalam film Kartini semuanya dapat disajikan dengan mirip sesuai pada jaman itu, detailnya pun lumayan bisa membuat penonton percaya bahwa itu adalah nyata, setidaknya buat Reviewer. Pengambilan gambar pun pas dan tidak berlebihan, tidak membuat sakit mata saat menontonnya.
———————————————————————————————————————————-
X-FACTOR
Yang membuat spesial film Kartini ini untuk ditonton adalah dimana film ini tidak menggurui, sangat begitu manusiawi dan mungkin bisa menginspirasi para wanita untuk bisa berkarya lebih tanpa harus meninggalkan kodratnya sebagai seorang wanita, ditambah dengan audio dan visual yang sangat matang. Film Kartini layak untuk ditonton, walaupun awalnya Reviewer memandang sebelah mata karena mungkin film ini paling hanya memakai aktor dan aktris papan atas tanpa peduli dengan alur cerita yang disajikan, tapi ternyata semua terpatahkan saat menontonnya, kali ini Hanung berhasil menyajikan sebuah cerita Kartini yang menunjukan kepada kita dari sisi yang berbeda walaupun masih banyak pro dan kontra tentang dirinya sebagai ikon utama wanita “perkasa” di Indonesia, sekali lagi selamat menonton.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s