FILOSOFI KOPI 2 : BEN & JODY “Sekuel Yang Tidak Kalah Nikmat Racikan nya Seperti Yang Pertama”

Review Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody
Score : 4.8/5
Genre : Drama
Tahun : 2017
Durasi : 108 Menit
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

“Sekuel Yang Tidak Kalah Nikmat Racikan nya Seperti Yang Pertama”

———————————————————————————————————————————-
IDE CERITA (4) ★★★★☆
Mungkin awalnya Reviewer ingin memberikan bintang 5 untuk pembahasan ide cerita kali ini, namun dikarenakan ini adalah sekuel kedua dari Filosofi Kopi maka, yang dimana yang pertama adalah selalu yang terbaik, tapi bukan berarti yang kedua ini jelek ya. Film dengan ide cerita yang mengangkat kopi sebagai bahan utama ide dalam sebuah film di Indonesia masih belum ada (mohon koreksi jika salah), maka ini adalah sebuah film yang sejak kemunculan awalnya terlihat berbeda dan ‘beraroma’ nikmat ketika disajikan ke layar lebar. Naskah yang rapi walaupun ada beberapa kejanggalan namun, tidak mengurangi kenikmatan saat menonton film ini. Premis yang ditawarkan sebenarnya tidak terlalu istimewa yaitu membangun sebuah kedai kopi yang tentu saja dibalut dengan kisah cinta para lelaki yang menjadi tokoh utama dalam film ini yaitu Ben & Jody, namun yang menakjubkan adalah Angga sebagai sang sutradara selalu bisa mengeksekusi ide cerita yang biasa menjadi menarik dan enak untuk disantap.
———————————————————————————————————————————-

AKTING (5) ★★★★★
Chicco Jerikho dan Rio Dewanto benar benar sukses dalam menyajikan Bromance yang terasa nyata dan seperti sudah dibangun bertahun tahun lamanya persahabatan mereka, mungkin karena mereka juga sama sama mengelola kedai kopi Filosofi Kopi maka, tanpa dengan susah chemistry itu terbangun sendirinya. Luna Maya dan Nadine Alexandra yang menjadi karakter baru dalam film ini pun tidak hanya menjadi pemanis saja, mereka mampu menampilkan karakter yang kuat dan justru semakin menambah ‘rasa’ dalam sekuel Filosofi Kopi ini. Background masing masing karakter lama pun kembali digali untuk dihadirkan sebagai konflik utama dalam film ini, karakter baru Brie dan Tara pun diberikan kesempatan untuk ‘diceritakan’ alasan mereka dalam jalan cerita yang dibangun. Banyak quotes yang mungkin bisa penonton ambil dan dialognya pun tidak terdengar ‘norak’ semuanya pas dengan komunikasi sekarang. Reviewer merasa ensemble cast dalam film ini sangat memuaskan.
———————————————————————————————————————————-

PLOT (5) ★★★★★
Film terakhir Angga Dwimas yang Reviewer tonton sebelum Filosofi Kopi ini adalah Buka’an 8, dan Reviewer suka dengan film tersebut walaupun sayang tidak menjadi salah satu Box Office di Indonesia. Kali ini pun Reviewer sangat menyukai alur cerita yang terasa begitu mengalir tanpa memaksa menonton untuk mengikuti alur yang tersaji, jadi seakan kita dihipnotis dengan jalan cerita yang memang sudah bagus dari awalnya. tidak ada plot twist, semua terasa manusiawi dan tidak berlebihan. Ending yang ditawarkan pun terasa menutup film ini dengan manis, walaupun kabarnya bakal ada sekuel selanjutnya, namun Reviewer malah berharap film ini tidak dibikin karena akan terasa sayang semua penutup manis yang dihadirkan di film kedua ini, tapi jika eksekusinya sebaik pertama dan kedua, why not?———————————————————————————————————————————-

AUDIO (5) ★★★★★
Lagu lagu yang ada didalam film ini membuat kita sebagai penonton serasa berada dalam sebuah kafe terus kita disajikan dengan suasana kafe yang cozy dan entah homeband atau musik musik yang diputar terasa semakin menambah ‘kehangatan’ sehingga membuat kita betah dan gak ingin beranjak cepat cepat. Music Scoringnya pun menyesuaikan dengan pas dari setiap adegan yang disajikan, sehingga membuat mood penonton pun dimanjakan tidak hanya secara visual namun juga audio.
———————————————————————————————————————————-

VISUAL (5) ★★★★★
Jika ada yang pernah menonton yang pertama mungkin akan sadar jika ada beberapa perbedaan Angga Dwimas dalam menyajikan sinematografi dalam sekuel Filosofi Kopi kali ini, sepertinya mungkin ingin memberikan sensasi yang berbeda dan itu justru menurut Reviewer menjadi nilai lebih. Secara setting dan kostum tidak usah diragukan lagi semuanya terasa matang matang dikonsep dan disesuaikan dengan karakter yang ada dalam film. Color Grading atau warna dalam film pun pas dan tidak berlebihan menjadikannya sebagai pelengkap tampilan sinematografi yang bisa dibilang anti mainstream ini.
———————————————————————————————————————————-

X-FACTOR
Filosofi Kopi kedua ini adalah salah satu film yang semua eksekusinya baik secara ide, naskah, para pemain, sinematografi dan makna dalam film semuanya disajikan dengan pas walaupun, tidak sempurna. Wajib ditonton karena ini adalah film yang punya ‘rasa’ dan jika punya ‘rasa’ maka film ini punya ‘nyawa’ saat ditonton, selamat menonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s